KH. Ma’ruf Amin Hadiri Pengajian Akbar Hari Santri Nasional di Kota Agung

Kota Agung — Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, MA, selaku Rois Am Pengurus Besar Nakhdatul Ulama (PBNU) menghadiri sekaligus menjadi Penceramah pada Pengajian Akbar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2017, yang dilaksanakan oleh Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Tanggamus, yang ditempatkan di Taman Kota, Kota Agung, Sabtu (4/11).

KH. Ma’ruf Amin selain sebagai Rois Am PBNU, diketahui juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dimana beliau merupakan tokoh nasional yang sangat dihormati dan menjadi tauladan, terlebih bagi warga Nahdliyyin.

Hadir dalam pengajian tersebut tentunya Wakil Bupati Tanggamus Hi. Samsul Hadi, M.Pd.I, Ketua MUI Provinsi Lampung KH. Choirudin Tahmid, Ketua PW NU Lampung KH. Raden Soleh Bajuri, Ketua Forum Ponpes Kab Tanggamus KH. M. Fadholi, Ketua PCNU Tanggamus KH. Amiruddin Harun, Sekdakab Tanggamus Andi Wijaya, Forkopimda Tanggamus, Wakil Ketua TP PKK Hj. Afillah Samsul, Ketua DWP, para Kepala OPD dan Camat dilingkup Pemkab Tanggamus, serta seluruh Pengurus Organisasi NU di Kabupaten Tanggamus.

KH. Ma’ruf Amin dalam ceramahnya menyampaikan bahwa para ulama dan santri turut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
“Negara dan bangsa ini hasil perjuangan para ulama, dulu tentara dan polisi belum terkonsolidasi sehingga belum ada gerakan, yang bergerak itu ulama. Saat Belanda berencana menjajah kembali, KH. Hasyim Asy’ari membuat fatwa jihad yang hukumnya wajib melawan penjajah Belanda,” ujarnya.

KH. Ma’ruf Amin juga mengatakan bahwa ada tiga tanggungjawab santri, yakni tanggungjawab keagamaan, tanggungjawab keumatan serta tanggungjawab kebangsaan dan kenegaraan.

“Kita harus menjaga supaya agama tidak dirusak, bukan Islam saja, agama lain juga tidak boleh dirusak, karena itu kita harus menjaga jangan sampai ada yang merusak agama di Indonesia. Siapa saja yang menodai agama akan dihukum sesuai Undang-Undang yang berlaku,” tegasnya.

“Santri dalam berdakwah tidak boleh keras dan tidak galak, harus santun dalam mengajak orang dengan cara sukerela, tidak memaksa atau intimidasi. Jangan terprovokasi apabila ada yang mempertanyakan kedudukan negara dan Pancasila, sebab bagi NU, NKRI harga mati,” tandasnya.

Sementara itu, Wabup Hi. Samsul Hadi, M.Pd.I., mengatakan dengan ditetapkannya Hari Santri oleh Pemerintah menjadi bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Lebih lanjut Wabup menyampaikan bahwa Pengajian Akbar ini untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Santri membentengi NKRI dari berbagai ancaman. Kaum santri mempelopori penerimaan Pancasila sebagai azas negara. “Bagi santri NKRI sudah final,” tegas Wabup (Kominfo).